Tampilkan postingan dengan label Dialog Jiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dialog Jiwa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Januari 2014

Penggalian Jiwa

Kehidupan adalah lingkaran yang bermula dari satu titik. Rangkaian perjalanan yang pada akhirnya manusia akan dihadapkan pada kemajuan atau kehancuran. Pikiran manusialah  yang menentukan. Dominasi kehendak sebagai interpretasi jiwa tanpa melupakan landasan untuk berpijak yaitu kebenaran, kenyataan dan kesadaran.
Ironisnya, pemahaman manusia tentang hakikat kehidupan selalu datang terlambat. Hal ini terjadi karena pengetahuan itu mengendap dalam alam bawah sadar. Pemahaman akan terlahir jika goresan atas beberapa pengertian dibangunkan oleh perasaan terdalam. Pengalaman dan bahkan benturan yang sangat menyakitkan sekalipun. Sebuah contoh sederhana, seseorang takkan memahami bagaimana asinnya garam meski ia tahu bahwa garam itu asin jika ia tidak pernah mencicipinya. Maka konkrit kehidupanpun begitulah adanya. Tertanam di dalam jiwa dan menunggu untuk dibangunkan. Oleh karena itu, setiap manusia sebenarnya adalah filsuf bagi kehidupan. Tak heran jika Albert Einstein pernah mengatakan bahwa unsur terkecil manusia yang bertenaga besar adalah penemuan dan pemahaman diri, karena dari sana semua cita-cita dapat dicapai.
Perumpamaan kehidupan adalah bejana yang penuh berisi air. Manusia memenuhi bejana itu dengan segala hal dan pristiwa tak ubahnya seperti setiap tetes yang tertuang. Ada kesedihan, pengharapan, dilema, kebahagiaan, hingga akhirnya ketika bejana itu tak mampu lagi menampung beban di dalamnya maka ia akan tumpah. Bejana akan pecah jika dipecahkan dan memulai proses dari awal kembali. Kiasan yang tak lazim memang tetapi kehidupan adalah perlambang dari jiwa. Dalam prosesnya muncul pemberontakan yang menguap dari titik jenuh oleh pencarian tentang hakikat diri dan kehidupan. Sekedar pengetahuan dan pengertian belaka tak mampu memupus pemberontakan melainkan hanyalah pemahaman saja. Di sinilah titik itu hadir dengan dua pilihan di kanan kiri. Pemahaman untuk kemajuan ataukah penyesalan untuk kehancuran.
Meski terkesan sederhana, namun jalan dari proses pengertian kepada pemahaman bagi manusia amatlah bergam masanya. Ada yang singkat tetapi ada pula yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk benar-benar memahami sesuatu hal dan peristiwa serta menerimanya sebagai sebuah hikmah kehidupan yang teramat berharga. Bagaimanapun manusia tetaplah manusia yang selalu memiliki keterbatasan  pemikiran, pengetahuan dan pemahaman tentang hakikat pengetahuan itu sendiri.
Karena keterbatasan itu pulalah, acapkali manusia berpikir telah memahami nilai-nilai kehidupan yang ada walau sebenarnya masih banyak pintu kebijaksanaan yang belum terbuka. Bahkan belum terjamah karena seringkali manusia terjebak oleh kebanggaan individualnya terhadap pemikiran dan konsep pemahamannya sendiri. Justru kebanggan itulah yang akan menutupi mutiara terindah sebuah kebijaksanaan.
Setiap hari, setiap waktu dan setiap peristiwa dari setiap keadaan adalah pelajaran kehidupan yang seharusnya mengajari kita untuk melihat. Tidak hanya dengan mata, namun merasakan dengan hati. Tidak untuk membuat batasan yang sempit, namun memandang dengan sudut pandang yan lebih luas ke dalam. Kepada kedalaman diri untuk tidak melihat sebuah permasalahan kehidupan hanya dari satu sisi. Melainkan sebuah proses perpaduan antara keburukan dan kebaikan, keterpurukan dan hikmah.
Mengetuk kesadaran batin agar tidak selalu ingin menyalahkan apapun dan siapapun. Melihat dan merasakan agar benih-benih kedewasaan di dalam jiwa yang timbul dari pergumulan hidup tidak terpasung dan terkungkung. Pada kerapuhan yang menyebabkan hilangnya kedamaian. Karena dalam kelemahan, manusia akan menindas jiwanya sendiri. Sedangkan untuk melihat dan merasakan tidak diperlukan kepintaran yang melebihi rata-rata atau kecerdasan otak yang briliant. Bukankah setiap manusia memiliki hati?
Intinya, adalah penggalian jiwa. Sebuah proses menemukan perkembangan batiniah dan tujuan hidup. Keinginan untuk lebih mengenal tentang siapa diri kita sesungguhnya, apa yang kita inginkan, mengapa ini terjadi, apa dan bagaimana seharusnya. Dan berbagai pertanyaan  lain yang berhubungan dengan garis kehidupan yang kita jalani. Perkembangan tahap kedewasaan untuk menyikapi kehidupan secara lebih baik dan positif.
Menerima diri kita apa adanya. Menghargai setiap kelebihan dan kekurangan yang kita miliki. Termasuk segala kelemahan dan keterbatasan dalam menyikapi makna kebijaksanaan. Bukankah antara diri kita dan para guru bijak sekalipun berangkat dari sekolah yang sama? Yaitu kehidupan. Kita mengenal dan merasakan materi pembelajaran yang juga sama. Elemen perasaan manusia tidak akan pernah berubah sampai kapanpun. Sama halnya seperti elemen kehidupan di alam. Ada ketakutan, pertentangan, keragu-raguan, konflik dalam porsi tingkatan yang berbeda. Diri kita tidak lebih lebih rendah ataupun tidak lebih bodoh dari siapapun. Karena pada setiap individu bahkan dalam kebodohanpun manusia memiliki kemampuan yang terpendam.
Manusia menggemgam keinginan dan harapan dan hanya manusia itu pulalah sahabat terbaik bagi dirinya sendiri. Tentu saja dengan tidak melupakan konteks pengaruh lingkungan terhadap eksistensinya. Berpijak pada logika sintetis, dalam keadaan terdesak bahkan menyakitkan sekalipun sebenarnya manusia telah mempunyai solusinya jika ia mampu mengembangkan pemikirannya. Dengan demikian, tentu saja tidak bisa dihindari nilai objektifitas yang dominan. Hanya manusia itu sendirilah yang sebenarnya paling mengerti tentang dirinya.
Tetapi seringkali manusia dijajah  oleh egonya sendiri. Menuntut agar manusia lainnya mau memahami dan mengerti tentang segala keinginannya. Dan jika tak terwujud, timbullah penyiksaan atas jiwa itu. Kesedihan yang mendalam dan pertentangan yang mau tak mau akan hadir tanpa diundang. Manusia yang satu tidak hidup hanya untuk mengerti dan memahami keinginan dan segala hal tentang manusia yang lain begitupun sebaliknya meski sesama manusia harus hidup bersama secara damai. Manusia  akan selalu kecewa karena kepekaan untuk memahami orang lain hanyalah minoritas yang akan tenggelam  dalam lautan ego manusia itu sendiri.
Seharusnya manusia  bertanya kepada dirinya masing-masing, sudahkah ia mengerti dan belajar untuk memahami jiwa manusia yang lain? Jika belum, semestinya segala tuntutan terhadap orang lain itu dipadamkan. Lalu sedikit demi sedikit belajar agar jiwa yang dimiliki tidak terkekang oleh tuntutan-tuntutan terhadap siapapun. Belajar untuk tidak terjebak oleh pola timbal balik dalam persepsi yang dangkal.  
.

Sabtu, 28 Desember 2013

Bingung

Bingung itu seperti api. Menjalar dalam waktu hingga membuat langkahmu membisu tanpa arah. Kau tak tahu harus bagaimana dan seperti apa karena kau bingung. Satu-satunya yang kau harapkan adalah keajaiban untuk menarikmu dari kekakuan yang membingungkan. Keajaiban yang itupun hanya membuatmu kembali bingung!

Mungkin keajaiban yang memberimu jawaban. Sebuah jawaban hingga kau merasa segalanya lancar dan aman untukmu. Egoiskah itu? Bisa jadi keduanya, ya dan tidak. Karena kebingungan itu membuatmu tak betah dan mati langkah sedangkan dirimu membutuhkan perubahan yang berarti dan memberimu wajah masa depan.

Kau ingin segalanya mengalir sempurna padahal ketidaksempurnaan adalah wajar dan bukan kesalahan vital. Kau bingung karena dalam benakmu terlalu dipenuhi ide-ide besar namun kau minim realisasi. Kau terhentak oleh kepasrahan yang membingungkan dan tak kau senangi.

Lalu akhirnya kaupun bertanya,” kemana aku harus membawa kebingungan itu?”  Tak perlu kau titipkan  pada  debar yang penuh resah, pada nadi yang berdenyut, kenapa tak kau lepaskan saja? Biarkan ia mengalir sejenak mengisi rongga – rongga jiwamu dan biarkan ia berjalan sendirinya dalam hening untuk menemukan kedamaian. Kau tak perlu bimbang. Satu-satunya yang harus kau lakukan adalah diam sejenak dan melepaskan beban. Sebentuk pikiran nakal yang mensugesti bahwa kau terjebak dalam kebingungan. Dan lihatlah akhirnya kau akan merasakan inspirasi itu. Menyengat jiwamu hingga kaupun tersadar kembali dari mimpi semu yang penuh jebakan.

Mungkin terlalu mudah dan terdengar konyol untukmu jika pada kenyataannya kau masih terjebak. Mimpi yang belum berakhir atau mungkin dirimu saja yang enggan terbangunkah? Padahal kau tak suka warna itu. Terlalu banyak warna hingga kau enggan membuat pilihan atau justru hanya satu warna yang penuh tuntutan dan memberimu keraguan? Dirimu harus berdamai dengan kebingungan itu. Tak menganggapnya ada sebagai kata, tapi sebuah pelajaran yang membimbing jiwamu satu langkah. Bukan kebingungan yang membuatmu bingung, tapi hati mu lah yang mungkin terpalung......

Rabu, 25 Desember 2013

Baru

Sesuatu yang baru itu seperti perasaan naik rollcoaster pertama kali, berdebar, takut, tapi juga menyenangkan. Sesuatu yang baru itu seperti perasaan senang ketika berhasil mengetahui dan mendapatkan nilai bagus di sekolah, seperti rasa bahagia saat mendapatkan surat cinta pertama..... 

Ah....sesuatu yang baru itu selalu penuh sensasi, tanda tanya dan juga ketidaktahuan. Mungkin pula sedikit naif, bisa juga segalanya. Jadi, kenapa harus takut dan menutup diri? Tak ada salahnya mencoba bukan? Walau di awal terkadang nampak bodoh dan tak tahu apa-apa...... Tapi tetap lebih baik daripada apatis dan merasa super segalanya. 

Pagi ini, menjelang  akhir Desember 2013, detik-detik pergantian tahun, aku belajar sesuatu yang baru :)   Banyak hal...... pemahaman baru, pengetahuan baru, dan perasaan baru. Tak ada istilah tua untuk mengenal sebuah ilmu ataupun belajar hal yang baru. Jadi teringat kisah taxi driver di Hitam Putih di Trans 7, meskipun sudah tua, namun  tak menyurutkan keinginannya untuk belajar memahami bahasa asing dengan baik. Cukup menginspirasi :)  Semangat belajar yang patut ditiru oleh kaum muda. Semangat baru untuk hidup yang lebih bermutu. Aku suka slogan si bapak taxi driver, intinya kira-kira, jika tak pernah berlatih bagaimana bisa menjadi pintar, jika malas berusaha bagaimana hidup bisa berubah. :D 

Lalu apa yang dipelajari? :)

* Pengetahuan baru : Sadar kalau ternyata aku termasuk pribadi yang sangat awam dalam hal apapun, soal perkembangan internet, hal teknologi apalagi.... ( jadi malu sendiri... terlebih jika pengetahuan baru belum dimengerti tapi malah bikin tambah gak ngerti n pusing sendiri.... :(

* Pemahaman baru : Berbincang dengan suara hati. Sadar kalau ternyata selama ini, hidupku masih terbelenggu egoisme dan tuntutan pribadi...... ( ingin belajar lebih berarti buat sesama dan keluarga ).

* Perasaan baru : Sadar jika perubahan itu membutuhkan tak hanya niat dan kemauan, tapi juga tindakan. ( harus tetap semangat walaupun terkadang jatuh bangun :(  ).

Tak terasa sekarang sudah hampir pukul enam pagi. Di luar, riuh rendah si Nimo mulai terdengar. Kokok perkasa ayam jantanku yang lucu. Menebarkan semangat di hari ini. Semangattt !!!!!!!!! 









Minggu, 10 November 2013

Catatan November..........

Ketika November datang.......... awal baru dari sebuah perpisahan. Sebuah pelepasan beban........ Akumulasi kekecewaan, kekesalan, tekanan, bahkan tawa........ Sebuah kenangan, indah namun tak indah, yang jelas sebuah pengalaman........Di sana ada pembelajaran, ada pula ketidakadilan.... 

Sebuah cerita,

Dari tahun-tahun kebersamaan yang seharusnya berkesan, namun akhirnya cuma datar. Terlalu besar arogansi yang menjadi antara tak tersambung. Kamuflase yang memuakkan. Ah........... 

Pada kekecewaan itu, siapa dan kepada siapa....... akhirnya hanya menyisakan pilu.

Ketika November menginjak pertengahan di bulan yang penuh hujan, hujan pembebasan pada hati yang awalnya merasa terisolasi, terkekang. Namun bisa juga hujan airmata karena merasa lelah, tak tahu arah. Terlalu banyak tuntutan...... 

Hujan di bulan ini, semoga dipenuhi doa yang penuh berkah dan kebahagiaan........





Senin, 04 Februari 2013

Dia

Melupakan tapi tak benar-benar melupakan............. rindu namun tak ingin mengaku....... Pilu jika teringat semuanya hanya semu..... Dia entah ada di mana..........pujaan hati membawa separuh mimpi separuh hati. Dia.......Kekasih........

Hanya kenangan setiap guratan wajah yang terbingkai. Sesekali hadir menyapa relungku. Dan mengundang tetes haru. Dia.......... masih sama di anganku. Terbuai bahkan ketika realita membuang paksa. Dia...... dijauhkan........... Aku tak berdaya.

Kekasih.......yang kusapa hadirnya di langit yang sama dan kucium baunya di udara yang membawanya berbeda......... aku hanya ingin merasakan indahnya hadirmu...walau dalam tanpa kata............ tanpa suara.....hanya diam satu dan lainnya. Buatku, itulah keindahan..............

Selasa, 14 Juni 2011

Menjadi Tua

"Kemarin, hari ini, dan besok, dan besoknya lagi....terus bergulir. Waktu menggelinding membawa setiap garis di dahi dan kelopak mata. Saat tersadar, kau dapati dirimu terselimuti keterasingan hingga membuatmu memohon untuk memutar ulang? Separah itukah? Waktu tak pernah memberi toleransi pada kerutan ataupun penyesalan. Tapi, waktu selalu memberi kesempatan kedua. Lantas, kenapa kau biarkan hatimu tercabik perasaan tak menentu? Apa karena kau takut? Setidaknya, akui saja, ketakutan itu. Kau takut pada waktu? Karena waktu membuatmu menjadi tua padahal sikapmu tak ubahnya seperti remaja? Hahaha....kau sungguh lucu? Tapi itu wajar, jadi kau tak perlu malu, kau sedih karena waktu dapat sangat kejam dan merenggut segalanya darimu. Kau sangat resah jika itu hadir dalam benakmu bukan? Sekarang apa jawabmu? Kenapa kau hanya diam?"

"Maaf jika aku hanya bisa diam, mungkin karena kata-katamu benar? Diri dan jiwa yang rapuh hanya sanggup berdiri pada tonggak kepasrahan saja bukan? Dan jika itu hal yang wajar maka biarkan aku mengakuinya. Pernahkah kau mendengar tak ada yang lebih menakutkan bagi seorang wanita selain kerutan dan menjadi tua? Aku juga sama? Walau aku juga percaya tentang kecantikan wanita memiliki keunikan tersendiri seiring kematangan usianya. Mungkin terasa sedikit menakutkan, karena dalam proses itu, aku lebih mirip bunga yang tak bertuan? Sesuatu yang selalu ingin kau tampilkan segar namun kau bisa menerima segala prosesnya jika dirimu tak sendiri?"

"Apakah itu yang kau rasakan? Kau merasa sepi?"

"Tak sepenuhnya? Waktu memberi refleksi yang sulit dijelaskan dan hanya dirimu sendiri yang mengerti? Kesepian itu ibarat taman tanpa suara? Sekali kau memasukinya dan semakin dalam kau akan melupakan segala suara hingga membuatmu terbiasa.
Ketika waktu menyadarkan tentang kematangan, tentang pencapaian, tentang pengabdian, tentang pertanyaan sejauh manakah? Itu yang menakutkan... Mungkin kadarnya lebih dari setiap coretan garis yang muncul di dahimu.... Penyesalan yang hadir karena menyadari, mungkin sebagian besar waktu itu hanya sia-sia....Hingga yang diperoleh hanya sedikit pencapaian, kontribusi bagi sesama yang hanya biasa, dan mungkin cinta yang tak pernah sanggup dimiliki...Itulah ketakutan itu, waktu menyadarkan bahwa hidupmu bukanlah apa-apa... Bukan kebanggaan, menyadari dirimu menjadi tua... Menyadari dirimu sangat tergantung, menyadari dirimu sangat takut kehilangan, perlindungan dan kasih sayang."

"Kau tahu apa yang paling kau butuhkan jika ketakutan itu menghampirimu?"

"Apa?"

"Setiap jiwa dipermanis oleh iman. Iman yang mengajarkan untuk tawakkal dan berserah diri hanya kepada Sang Pencipta. Karena ketakutan yang hinggap di hati adalah ujian dari Yang Maha. Darinya dan seharusnya hanya kepada-Nya lah segala sesuatu dikembalikan.
Jika kau takut dan resah, mendekatlah dan serahkan dirimu, masalahmu, hanya kepada Sang Pemilik Jiwa. Dan jika dirimu benar-benar melakukannya dengan ikhlas, ketakutan itu takkan membalutmu. Cukup sesederhana itu............"





Rabu, 23 Maret 2011

Tanya

Saat hati bertanya tentang segalanya, perjalanan dan makna, tentang kegelisahan, keikhlasan, perjuangan. Terselip rapuh sekaligus kekuatan terpendam. Menggantung di udara yang berkipas di antara fajar.
Tanya itu mengguncang di permukaan langit yang redup. Sebesar apa ikhlas itu membumi di kedalaman hati? Jika kerlapnya hadir di jiwa yang belum tumbuh sempurna? Pemahaman sementara yang teroleng oleh kerasnya ujian yang berlipat dan bertingkat. Entahlah...tak terwakili kata.
Ketika rapuh menjelang di rimba jiwa, bertanya tentang seulas senyum, haruskah jika hati tak bergelora? Ketika panah berbalik ke sarangnya dengan terpaksa? Tak ada.....
Namun cinta selalu kembali. Pada Kasih tertinggi yang mengharap welas. Menanggalkan segala lencana keangkuhan maupun ketersendirian. Menyambut dengan kedalaman yang sangat luas untuk diarungi oleh kerendahan hati. Biarkan hati dan jiwa ini terbasuh oleh Kasih Ilahi yang Maha Suci. Mengikis segala debu yang berkutat dengan ego dunia yang tertempel erat....
Begitu melekat, mengguncang sisi manusiawi karena keterikatan.
Masih belum bisa....sungguh begitu lemah dan tak mampu......
Tuhan....tolong bimbinglah aku........

Selasa, 08 Februari 2011

Setia

Cinta adalah nafas yang membuat hidup. Dalam pengembaraan ini, cinta menjadi pencarian yang tak lekang. Karena cinta memberi arti dari setiap langkah. Alangkah berbahagianya mereka yang mengikrarkan dan mengikat diri dan hati atas nama cinta dalam komitmen yang agung. Komitmen bukan karena semata kompromi, mengejar tujuan, pemenuhan kebutuhan, melainkan komitmen atas dasar cinta. Komitmen yang membutuhkan kesetiaan. Karena tanpa setia, segalanya kabur dan rapuh......

Aku ada dan merasa indah karena kau indah dan memberi keindahan itu. Setiap detik jiwaku berusaha menggapai kedalaman jiwamu dan menjadikannya satu. Betapa beruntungnya mereka yang memiliki kesempatan itu. Hidup bersama, saling memiliki tak hanya raga tapi juga jiwa.... Namun dalam perjalanannya, dalam proses yang mereka lalui, kenapa masih ada keluhan tentang rasa sepi? Tentang penantian, tentang rasa bosan, tentang segalanya....Apakah mereka telah lupa pada janji setia mereka? Pada kekuatan cinta yang menghantar mereka menjadi satu?

Ataukah cinta di hati itu sedang bersembunyi dan tak lagi bergejolak di dada?

Tidak, aku sungguh tak ingin mencintaimu seperti itu.....


Selasa, 09 November 2010

Berbagi

Tak semua orang memiliki segalanya termasuk harta. Kadang kita harus bekerja keras, berusaha semaksimalmungkin untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Tak heran jika akhirnya kita terjebak oleh pola hidup "selalu kurang". Walau itu tak salah, namun jangan sampai membutakan hati kita untuk melupakan keadaan sekitar.Tak semua orang hidup beruntung bukan? Ada sebagian bahkan lebih banyak lagi orang yang jauh kesusahan dari yang kita alami. Bahkan ada yang lebih buruk dari itu. Seperti mereka yang menjadi korban-korban bencana dan menjadi pengungsi di tenda-tenda darurat. Nasib yang tak jelas dan kehilangan segalanya yang mereka miliki. Jika kita selalu melihat pada kekurangan yang ada pada diri kita, lalu kapankah kita merasa lebih untuk sedikit saja berbagi?

Bukankah sesama manusia adalah bersaudara? Jika kita melihat saudara kita dalam kesusahan dan menangis, apakah kita hanya akan melihat saja dan berdiam? Alangkah indahnya jika dalam hidup kita yang sementara ini kita merasa terpanggil dan ingin berbagi. Ikut merasakan derita saudara-saudara kita yang lain.

Berbagi adalah sedekah dan sedekah sungguh hal yang sangat mulia. Walau terkadang keikhlasan menjadi faktor penentu yang sering menjebak keimanan seseorang. Sungguh hal yang biasa jika seorang donatur kaya memberi sumbangan dalam jumlah cukup besar, tapi sanggupkah diri kita yang masih saja merasa kekurangan untuk melakukan itu? Pertanyaan mendasar yang harus kita ajukan pada diri kita masing-masing.....

Jawabannya adalah di saat kita memutuskan untuk berbagi, sebenarnya kita menolong diri kita sendiri. Menolong hati kita untuk tidak terbelenggu pada menu keserakahan yang terlalu dalam. 

Sedekah adalah ibadah, dengan memberi sebenarnya kita menyimpannya dalam bentuk yang lain yang lebih indah... di kehidupan akhirat, Insya ALLAH...





Kamis, 21 Oktober 2010

Love

Cinta adalah pohon anugrah yang memiliki keunikan di setiap bentuk dahan dan rantingnya. Burung gereja yang bercengkrama di pagi hari mungkin akan memiliki persepsi yang berbeda mengenai ranting-ranting dengan seekor tupai yang meloncat-loncat mencari ulat di antara dahan. Persepsi hati tergantung bagaimana cara kita mengalaminyakah? Ranting itu mudah patah seperti persepsi cinta yang rapuh ataupun bisa kuat mengakar seperti dahan besar yang menancap.

Dahan-dahan itu menjulur ke utara, ke selatan, ke barat, ke timur, dapat juga menjulang ke atas seolah ingin menggapai langit.
Cinta adalah garis dan pengalaman hati baik horizontal maupun vertikal.

Cinta kepada Tuhan, kepada Orangtua dan Keluarga, kepada alam dan sesama makhluk Tuhan. Juga kepada belahan jiwa...............
Ada yang bilang cinta monyet, cinta semu maupun cinta sejati, cinta suci, cinta abadi, cinta nafsu, cinta duniawi. Kenapa cinta memiliki begitu banyak rupa dan sering berganti-ganti wajah? Cinta itu indah, cinta itu sakit, cinta itu pasrah, cinta itu gairah, cinta itu membingungkan, cinta itu...aneh?
Mungkinkah sebenarnya cinta itu begitu sederhana dan tidak perlu penjelasan yang rumit?

Cinta kepada Orangtua maka kita akan berbakti dengan ikhlas, cinta kepada alam maka kita akan menjaga dan memanfaatkannya sebijaksana mungkin, cinta kepada sesama maka kita akan peduli terhadap penderitaan orang lain dan berbagi, cinta kepada Tuhan maka di hati akan timbul keikhlasan terhadap segala ketaatan-ketaatan. 
Semakin ikhlas berarti semakin cinta. semakin enggan berarti kadar iman sedang mengalami penurunan.

Lantas, cinta kepada belahan jiwa?

Benarkah rasa suka adalah bunga dari cinta? Belahan jiwa adalah...............................?










Rabu, 20 Oktober 2010

Aneh

Keanehan sepintas lalu yang menggelitik gelombang otak. Sebenarnya bukan sesuatu yang ganjil, hanya gambaran nakal yang ingin bermain-main dengan liar dan sebebas-bebasnya. Terkadang seperti flashback, kembali ke masa lalu dan mengingat cuplikan-cuplikan kecil yang pernah ada. Episode drama kehidupan yang terjadi, tidak terjadi, bercampur antara nyata dan halusinasi semu.
Ah...gemasnya...

Potret kehidupan yang seperti mimpi dan berjalan di atas kabut putih, sama anehnya dengan kata-kata yang tercecar sekarang. Nampak kelelahan bersandar di salah satu sudut terpencil. Ruang hati tersamar dan berlabuh sebentar di celah pikiran...

Apakah namanya ini? Tersapa hentakan berdebar dan sulit dijelaskan oleh ribuan kata.
Kegelisahankah? Resahkah? Atau mungkin sesuatu yang aneh dan baru dan menunggu untuk dirumuskan ke dalam sebuah definisi oleh diri yang bodoh? Entahlah....

Dan resah itu sendiri apa? Kenapa dia senang mengusik ketenangan? Seperti cubitan-cubitan kecil yang menggemaskan namun adakalanya menyisakan goresan?

Resah adalah resah. Gelisah adalah gelisah...

Resah adalah kebahagiaan semu dan ketidakpastiankah?

Yang jelas, resah adalah kebodohan karena membuat hati lelah dan bingung karenanya. Kebodohan yang menjadi candu. Tak nyaman tapi tetap dibiarkan singgah berlama-lama...

Kebodohan yang selamanya akan tetap menjadi kebodohan karena membiarkan semuanya terjadi berulang-ulang.
Kebodohan karena menutup mata dari jawaban sejati. Sebuah jawaban yang diketahui dan dimiliki oleh siapapun di dunia ini? Sebuah jawaban untuk kembali pada kebenaran hakiki. Siapapun pernah mengalami pasang surut bukan? Mungkin langkah jiwa sudah terlalu jauh menapaki tangga ego duniawi. Keikhlasan menjadi kabur oleh banyaknya tuntutan-tuntutan.
Yah, inilah saatnya bagi hati untuk kembali, karena resah mungkin adalah peringatan.....

Jumat, 13 Agustus 2010

BAHAGIA

Ada yang bilang jauh, ada yang terasa dekat, namun ada pula yang masih merasa bingung dan tak tahu seperti apa, bahagia itu.... Antara ada dan tiada, seperti dua sisi yang terlapisi kabut tipis.
Bahagia terkadang menyisipkan rupanya pada aneka rasa yang tertambat melupakan sekejap penampilan duniawi yang menggerahkan. Pada rasa yang melapangkan jiwa dari titik jenuh. Pada keagungan batiniah, pada senyum yang tulus, pada kejujuran yang tak dipaksakan. Ataupun di saat lain bahagia kan menyandarkan dirinya pada elemen ketenangan yang mendamaikan.

Bahagia adalah ketenangan jiwa di saat hati mampu melupakan hal yang terburuk. Saat nadi berdenyut mengikuti irama keikhlasan.

Bahagia adalah kepak camar yang mengangkasa melepaskan semua beban yang tersimpan.

 Bahagia adalah tawa dedaunan di kala pagi mulai menyingsing dan menerima sinar pencerahan.

Hati akan bahagia jika sesungguhnya kita memang ingin merasakan hal yang tak berlawanan dengan niat sebelumnya. Bagaimana hati kan tenang jika kita selalu melihat ke belakang dan merasakan kesedihan? 

Seperti angsa yang berandai terbang, namun ia selalu berkubang dalam lumpur. Siapa yang melupakan apa, tak boleh melakukan hal yang sebaliknya. Jika ingin terbang, kepakkan sayap. Jika tak bisa terbang, terbanglah dengan hati dan harapan yang tak mati akan membawa berkelana ke dunia bahagia.......

Senin, 19 Juli 2010

MARAH

Kecil melebar membesar, terbakar repis, kikis, habis. Marah adalah tarian api jalang dengan nyala yang membungkal. Luapan jiwa yang penuh sarkastik lalu mencuat oleh hunjaman kasar yang menyedihkan. Berakhir pilu kadang rasa bersalah. Marah adalah sepi yang membakar. Atau tawa hampa tanpa arti dalam keheningan.

Marah bukanlah refleksi kesucian tapi wujud naturalis yang berhak dimiliki siapapun. Pertanyaannya, sanggupkah diri untuk melepaskan hak itu? Hak yang menyesakkan, bergemuruh dalam kebuntuan?
Marah pada apa dan mengapa ataupun pada siapa tetaplah amarah yang menghilangkan kedamaian. Karena marah adalah merah! Karena marah adalah api! Bukan kehangatan tapi panas yang menarik jiwa ke titik didih tertinggi.

Marah adalah terpalung pengap karena hati tak dapat melihat dengan jelas pada cahayanya. Lalu jika api dapat dipadamkan oleh air, pada apakah marah akan kehilangan kuasanya? Karena marah adalah selubung gelap yang dapat menutupi pintu-pintu kasih dengan arogan. Pada tarikan nafas sesaat atau pada kediaman yang tak dapat terduga akan kedahsyatannyakah?

Apakah diam akan mengubur hawa merah ke dalam ruang terkunci yang pasti akan mati? Jangan-jangan diam itu justru akan menghidupkan bom aktif yang tak terkendali kemunculannya. Sungguhkah?

Marah memiliki rupa tersendiri yang tak sama oleh kedalaman jiwa. Mengikis amarah tak semata oleh diam yang terkotak. Mengingat jasa dan kebaikan mungkin juga adalah jawaban. Sebab marah tidak membunuh hati hanya membutakan sesaat.

Dalam hati seharusnya terpatri rasa terimakasih bukan? Seperti siraman hujan yang menyejukkan di musim yang tandus. Kekeringan emosi karena marah seharusnya terobati jika dalam hati kita masih terbersit rasa terima kasih. Walau setitik, walau sedikit. Seperti air sejuk yang mengalir, kita berusaha menenangkan diri di dalamnya.

Pertanyaan lain, bagaimana jika tak ada kebaikan yang terjadi? Tak ada jasa yang diberi? Hanyalah asing yang bertaut dalam perjalanan waktu? Terimakasih untuk apakah?
Marah, marah dan marah? Siapakah yang tersakiti? Orang yang kita marahi, kita yang dimarahi, atau orang-orang yang terlibat di dalamnya masing-masing? Marah adalah menyakiti, marah yang terlalu lama akan melahirkan benci, marah adalah luapan panas tak bertepi jika hati tak ingin segera mengakhirinya.



Jumat, 16 Juli 2010

MAAF

Maaf adalah inti terdalam dari jiwa. Panggilan suci yang melekat untuk hati yang ingin berbagi kasih dan damai. Tanpanya, seluruh denyut nafas kan menyesak oleh tarikan panas yang tak tertahankan. Saat harga diri dan keangkuhan terselimut kaku, terkadang maaf hanyalah maaf yang menjelma menjadi kata tanpa makna. Adakalanya maaf terasa begitu berat untuk diucapkan apalagi diberi, karena hati begitu rapuh untuk menyandarkan segala luka dan goresan yang terkoyak. Karena maaf adalah kerumitan hati yang terselubung.

Maaf adalah keagungan jika diri belajar untuk melupakan segala benci, ataupun belajar untuk mengakui kesalahan. Namun sejauh mana ukuran kelegaan itu? Pada setitik keikhlasan yang dipaksakan atau pada ingatan yang terpaksa dikaburkan?


Adakah yang benar-benar ikhlas jika selanjutnya akan muncul trauma baru? Setitik ketakutan yang akhirnya kembali mengingatkan goresan?
Maaf dan memaafkan. Sungguh hati adalah ruang yang rapuh dan membutuhkan pembelajaran.






Rabu, 30 Juni 2010

Bingung

Menghilang lalu terbang. Sejenak mencuat kembali di sela-sela ketakpahaman. Bongkah kikuk membatu dalam benak. Tak tahu harus bagaimana, seperti apa, hanya bingung. Hadirkan keluh dan tanya sesaat, akhirnya terdiam. Kupas segalanya pada keterbatasan yang dipaksakan?

Bingung itu seperti riak air yang semakin lebar jika hati mengangkasa dalam kesenyapan tanpa arah.
Kebingungan tercipta untuk hati yang luruh oleh pengaduan terdalam.

Kebingungan adalah milik hati yang masih ingin terus mencari dan memperoleh arti. Bukanlah kebodohan yang harus dipermalukan.
Namun, diamnya jiwa tak menjawab semuanya. Adakala tersapa, adakala tertunduk pada kebingungan yang semakin mencengkeram.
Tak lebih dari pertanyaan dan godaan mungkin? Biarkan saja inspirasi datang dan menjawab segalanya.Oh ya? Naifkah?
Ketika waktu datang mengejar langkah dan terkadang memaksa lahir sebuah jawaban karbitan. Tragiskah? Jika kebingungan adalah bayangan senja yang semakin menukik hari?
Setidaknya masih ada asa tersembunyi di antara jendela. Tak perlu resah dan pasrah. Karena untuk sebuah kebingungan jika hati ingin menjawab, segalanya akan terjawab. Cukup sederhana saja, cukup apa adanya saja. Bukan jawaban berlebih yang dipaksakan untuk dewasa. Melainkan jawaban rahasia yang benar-benar datang dari hati.


Selasa, 29 Juni 2010

Crazy

Kegilaan itu muncul seperti parasut angin yang tiba-tiba menghentak. Langkah menjadi kaku dan pikiran membiru. Seperti virus yang tiba-tiba membludak. Memenuhi ruangan syaraf dengan segala pekik tak dimengerti. "So Crazy". Begitulah adanya saat gejolak jiwa tak bersandar logika yang dalam. Terpatah kabut dalam pecahan dilema. Konsep bercampur aduk.

Kekusutan datang menampakkan belang. Siapakah yang memanggilnya? Pada tangan-tangan hitam pembuka kegelapan mungkin atau pada titik jenuh yang melekat di sudut-sudut tak bertepi. Hati?


Variasi jiwa tak terbendung dalam untaian yang sama. Aneh, membingungkan, pudar, terbolak-balik. "It's so crazy"Jika diam adalah kegilaan yang menyesak, jika tawa adalah kegilaan yang menenangkan, apakah nama untuk sesuatu yang "complicated"?Ada tapi tiada, tiba-tiba tersadar dalam pelayaran asing dengan metode sarkasme yang dihiperbolakan.


"Crazy is crazy"!


Tak bertaut apapun tak perduli apapun. Mungkin juga tak sepenuhnya benar. Apapun itu selalu membutuhkan sebuah tarikan untuk membawanya kembali. Pada keseimbangan yang tak perlu harus diandai-andai. Pada kebenaran, pada keikhlasan, pada kewajiban, dan pada kebaikan yang tulus dari hati.








Senin, 28 Juni 2010

Puzzle

Kepingan puzzle berhambur, tersebar di antara celah kehidupan yang misterius. Berusaha menguak sesuatu menjadi terlihat dan jelas. Agar terbaca oleh pikiran yang terbelenggu. Kadang biarkan pasif, terlalu apatis untuk mencari tahu dengan pasti. Biarkan saja. Namun, adakalanya keinginan hati ingin semuanya nampak jelas dan indah.
Ah, kenapa terkadang segalanya menjadi begitu rumit?
Potret kehidupan yang membentang dengan segudang intrik dan nuansa.

Ketika puzzle menjadi semakin tertata,
ada sedikit keraguan akan kepastian yang sesungguhnya. Bahwa sebenarnya tak ada yang pasti mungkin. "Puzzle iz puzzle" Atau biarkan saja puzzle itu tetap terkunci dalam diamnya?


Saat hati bertanya tentang banyak hal yang sulit dimengerti, kadang kita akan berusaha membuat puzzle tersendiri. Lalu mencari jawaban di antara sekelumit penerangan yang timbul tenggelam.

Tidakkah itu salah satu bentuk keegoisan belaka? Atau hanya sekedar kewajaran?


Sisi misterius itu adalah sebuah keindahan yang rumit. Sukar dimengerti dengan keunikan yang berbeda sifat. Seperti puzzle-puzzle yang terbentang dalam genggaman kehidupan. Kadang jiwa manusia terlalu sempit untuk mengartikan setiap hal. Puzzle yang berwarna, yang netral, yang memenuhi pigura jiwa.






Jumat, 25 Juni 2010

Mimpi

Setiap orang mungkin pernah bermimpi. Sebenarnya apasih mimpi itu? Seperti nyanyian burung di antara kelepak malam yang terlepas. Petikan jiwa ketika tarian roh diperdengarkan begitu dalam. Mimpi akan mengukir dirinya dalam bilik berkabut yang tak nyata tapi kadang begitu jelas dan mengesankan. Sesaat mendebarkan, menyenangkan, misterius, mempesona walaupun kadang-kadang tak terduga dan menakutkan.

Ah, seperti mimpi-mimpi yang datang dibawakan oleh peri-peri tidur yang rupawan. Hadiah bagi kelembutan hati yang terlelap oleh segudang kepenatan realita. Mungkinkah? Tak ada yang tak mungkin. Adakalanya mimpi juga adalah pertanda. Intuisi bawah sadar yang terekam dan memberikan alert kewaspadaan.


So, mimpi pada dasarnya tetaplah mimpi. Boleh percaya boleh tidak. Iya kan? Lalu jika mimpi itu terus berulang dan terjadi di setiap momen dan hari yang berbeda, bagaimana? Apakah masih sebatas bunga tidur saja? Tak ada yang tahu teka-teki itu. Mimpi akan berselimutkan sisi misterius yang tak terbatas oleh ejaan dan makna saat ia menggantungkan segalanya di luar pikiran yang sempit dan penuh keingintahuan duniawi.


Mimpi yang mengesankan ketika jendela alam bawah sadar terbuka dan menarik langkah kita mendekat untuk merasakan sesuatu yang indah. Pertemuan dengan idola misalnya, melihat seseorang yang begitu mempesona hingga kadang membuat kita tak ingin terjaga. Tentu yang seperti itu bukanlah pertanda tapi adalah hadiah di antara beribu mimpi yang datang silih berganti. Menghampiri dengan aneka warna, rupa, dan tema. Mimpi yang seperti itu bagi sebagian orang adalah anugrah. Saat kenyataan tak seindah yang dibayangkan dan dijalani. Hiburan tersendiri bagi jiwa yang rapuh mungkin? Saat keterbatasan mengelilingi dengan begitu kuat dan mencengkeram. Tanpa disadari mimpi adalah sebuah harapan. Sebentuk angin segar yang memenuhi ruang pikiran tersembunyi dari hati.


Keep on dreaming? Benarkah? Teruslah bermimpi selama mimpi itu memberi kebahagiaan. Walau sedikit semu tapi hati membutuhkan sentuhan ajaib seperti bubuk kegembiraan yang ditebarkan para dewa-dewi. Pemberi semangat bagi hati yang terlanjur terpuruk bukan? Bermimpi dan yang terpenting dari segalanya, raihlah mimpi itu, agar tak hanya sebatas bunga tidur yang beraneka.