Jumat, 20 Februari 2015

Pelangi di Hati Riana


Lukisan biru menghantar Riana tanpa kata. Pepohonan berganti jenis di sepanjang village. Jalanan aspal berlomba dalam kebekuan. Sesekali tercium bau sisa hujan yang melekat di setiap celah. Dengan sepenuh hati Riana meremas setir di depannya. Tak terasa, butiran mutiara masih menggenang. Hatinya masih sakit. Benar-benar sakit. Padahal dirinya jauh-jauh menyempatkan waktu untuk datang. Pada kota di mana cintanya telah tertambat. Pada Mario. Pria tampan yang telah mengisi hatinya semenjak dua tahun terakhir. Tapi apa yang terjadi? Jika bukan matanya sendiri yang menyaksikan kejadian itu. Keterlaluan. Riana berteriak dalam hati.

Adegan yang dilihatnya seolah rekaman yang diputar berulang dalam otaknya. Bagaimana wanita penggoda itu bergelayut mesra di lengan Mario yang kokoh.Sambil menyandarkan kepalanya yang penuh kelicikan di dada bidang itu. Dada bidang yang seharusnya menjadi milik Riana. Kali ini ia tak sanggup lagi, Riana sesenggukan. Sekeras-kerasnya walau teredam oleh pintu kaca yang membungkam.

“Kau jahat Mar…” Riana menggumam. Hatinya tertampar pelak. Harga dirinya terkoyak dalam serpihan kabut. Kenapa cinta begitu kejam? Berkali-kali membuat relung hatinya berdarah. Terluka begitu dalam.

Seolah mengikuti irama hatinya yang mencuat tinggi dalam emosi tak terperi. Kakinya menginjak gas menghembuskan deru angin di luar yang seolah berlari. Roda hitam itu menggelinding tajam. Melindas permukaan aspal dan kerikil tiada ampun.

Patah!

Sepatah belokan tajam di depannya. Riana membanting setir ke samping, namun karena lajunya yang begitu tinggi, membuat panther metalik  itu hilang keseimbangan dan berputar keras. Oleng beberapa putaran sampai akhirnya menancap di hadapan pohon tua di sisi jalan. Seketika Riana merasakan berat tak tertahankan di kepalanya. Sisa-sisa kesadarannya menaburkan warna lain. Merah. Warna merah seperti darah. Lalu sekonyong-konyong Riana terlelap dalam warna hitam.

Hitam dan pengap. Riana seolah pernah mengalami hal ini sebelumnya, tapi di manakah? De ja vu?
“Riana…Riana…jangan pergi…” sayup-sayup sebuah suara tak asing tapi siapa? Riana sendiri merasa heran. Merasakan kaki-kakinya begitu ringan. Seolah terbang.

Ah…suara itu seolah menariknya dalam kelembutan yang teduh, namun kepingan hatinya terasa tersayat-sayat. Dan akhirnya suara itupun berganti menjadi auman-auman kecil yang menggelepar dalam irama tak terkendali. Riana tak mengenal apapun.

Kelopak matanya serasa menembus lorong hitam putih yang berputar dan membuatnya pusing. Semakin dalam dan menggasing hingga meluluhlantakkan serpihan jiwa dan tubuhnya ke titik lara.

Entah berapa lama Riana tergeletak dalam keheningan aneh yang tak disadari hingga akhirnya ia benar-benar terjaga dari mimpi atau mungkin dunia lain yang sempat didatanginya sesaat. Bau obat-obatan yang menusuk hilir mudik di hidungnya. Kepalanya terasa berat, namun matanya yang masih agak kabur mampu menangkap wajah itu. Wajah yang penuh kasih dan cinta.

“Oh Riana, syukurlah Nak kau tersadar akhirnya. Mama sangat khawatir Sayang.“ Seorang wanita setengah baya memandang Riana sambil terisak, nampak kelegaan di wajah tuanya. “Cepat kau panggilkan dokter, Tan” ujarnya pada wanita di dekatnya yang tak lain adalah saudara perempuan Riana.

“Mama….”,ujar Riana lirih. Tak lama kemudian seorang dokter dan perawat datang memeriksa keadaan Riana yang lemah. Hampir dua hari ia tak sadarkan diri hingga keajaiban telah membawanya kembali. Pada kenyataan yang sedikit demi sedikit ditampilkan dalam sebuah pigura.

Keesokan harinya terasa lebih hangat bagi Riana. Sinar kuning keemasan menerobos dari celah ventilasi. Balutan perban menghiasi kepalanya dan sekujur tubuhnya masih terasa ngilu. Sesaat terlintas di benaknya peristiwa kemarin. “Ah.. Mario…kenapa kau lakukan itu padaku?” Bisik Riana pelan. Tatapannya berkaca-kaca tak sadar jika sepasang mata telah menatapnya cukup lama.

“Selamat pagi?” Seketika Riana kaget. Berusaha ditolehnya dan ternyata telah berdiri sosok pria mengenakan baju  putih di sampingnya. Riana masih ingat, itu adalah dokter yang memeriksanya kemarin.

Salam yang tak membutuhkan jawaban karena pria itu langsung melakukan kewajibannya sebagai dokter ahli dalam menangani pasien-pasiennya. Riana pun tanpa kata dan membiarkan dokter muda  itu bekerja. Usianya sekitar tigapuluhtahunan ke atas dan garis wajahnya kharismatik, sesaat mengingatkan Riana pada garis wajah Mario. Ah tidak! Kenapa harus teringat pada wajah itu. Riana seharusnya membenci Mario! Tanpa sengaja Riana mendengus.

“Ada apa, Nona Riana? Apa kepalanya masih terasa nyeri? Itu tidak apa-apa kok,” ujar dokter itu sambil tersenyum ke arah Riana. Senyuman yang sangat khas dan penuh perhatian. Riana sedikit merasa bersalah padanya karena telah membandingkan ketulusan itu dengan pribadi yang penuh kelicikan dan pengkhianatan.

Tapi Riana hanya bisa memainkan raut wajahnya perlahan. Sedikit gerakan saja masih menyisakan nyeri akibat benturan keras di kepalanya. Dokter itu tampak begitu tenang dan memberi nuansa tersendiri. Seolah keberadaannya menaungi bayang-bayang kehangatan dan memberi efek menenangkan yang unik bagi pasiennya. Lalu tiba-tiba….

“Tante Ratna banyak bercerita tentang kamu, Riana,” spontan Riana seolah ingin berteriak dalam hati. Begitu kaget mendengar ucapan Dokter itu barusan. Tak ada lagi kata “Nona” tapi langsung memanggil namanya dengan jelas. Dan Tante Ratna? Darimana dokter itu mengenal ibunya? Mereka bercerita apa saja? Ah….

“Kamu mengenal Mama?” Ujarnya dengan nada lemah namun mengisyaratkan rasa  ingin tahu  yang mendalam. Tapi yang ditanya hanya tersenyum simpul. Sesaat ia menatap Riana begitu dekat.

 “Oh ya, tentu saja kamu tidak tahu, sebenarnya kita masih punya hubungan kekerabatan kok. Orang tua kita masih sepupuan, tapi karena aku lama di Australia jadi kita memang jarang  bertemu. Terakhir aku melihatmu…

Emm…Oya, kalo tak salah, waktu kamu masih di Sekolah Dasar. Kamu tampak lucu dengan bandana pink hati itu, hem…Tak disangka kalo kita akhirnya harus bertemu lagi dalam keadaan seperti ini. “

“Papa sering bercerita tentang Tante Ratna dan anak-anaknya, termasuk kamu. Papa bilang, beliau sangat merindukan masakan Tante. Sudah hampir sepuluh tahun mereka tidak bertemu, dan ternyata siapa yang menyangka kalo akhirnya aku menjadi salah satu dokter di rumah sakit di kota ini. Kota kelahiran Papa. “ Lalu seolah tak ingin terlalu membebani Riana dengan ceritanya, dokter muda itu kembali menatap Riana dengan lembut sambil berujar.

“Aku senang melihatmu lagi, gadis kecil. Tak kusangka kamu gadis yang kuat rupanya.“  Senyumnya tulus dan sekilas tampak sinar kelegaan di mata itu. “Oya, besok, aku akan menjengukmu lagi, baik-baik ya?”

“Emm…dokter, aku…”

“Riana… panggil saja aku Ryan, oke?” Jawabnya sambil berlalu meninggalkan ruang putih pucat di sekeliling Riana.

*********

Tanpa terasa hampir tiga bulan berlalu sejak Riana keluar dari rumah sakit. Kondisinya sudah dinyatakan sehat dan tanpa gangguan apapun. Walau sebenarnya Riana paling tahu jika ada yang belum benar-benar pulih. Hatinya yang masih terlapisi kabut masa lalu dengan pria yang sangat dicintainya. Meski dirinya selalu diberikan perhatian ekstra oleh Ryan. Pria itu sering mengunjunginya walau dengan alasan hanya ingin sekedar mengontrol kondisinya pasca kecelakaan tapi Riana dapat merasakan ada sesuatu yang berbeda tatkala pria itu menatapnya. Sorot mata yang hangat. Lembut melindungi namun tajam dan menyimpan misteri. Entahlah….Mungkin hati Riana masih terlalu trauma  untuk mempercayai segala bentuk cinta. Antara perhatian dan pengkhianatan, tak bisa dipercaya jika harus muncul pada satu wajah yang sama!

Sore itu, angin bulan Agustus bertiup kering, semenjak kejadian yang menimpanya Riana lebih sering menghabiskan waktu di rumah dan telah menjadi kebiasaannya ketika sore ia duduk di halaman belakang rumah, berangin di ayunan besi yang lebih mirip ayunan putri-putri di kastil peri. Menghirup secangkir es teh dan cemilan ringan sambil memandang awan yang menaungi kebun mawar  miliknya.

“Kak….ada yang mau ketemu, tuh,” Riana menoleh. Dari jauh ia sudah melihat langkah dokter muda itu mendekat. Tepat di belakang adiknya, nampak Ryan dengan gayanya yang khas. Walau dalam hati Riana mengakui, satu kata yang terbekas. Tampan. Namun kali ini dirinya tak ingin tergesa-gesa. Sejenak ia teringat ucapan seorang teman. Mengobati hati dengan hati. Semudah itukah? Nyatanya, Riana bukanlah seseorang yang mudah membuka hati untuk cinta…..

“Apa ini,” pandangan Riana langsung tertuju pada sebentuk benda yang disodorkan Ryan padanya. Sebuah kotak persegi terbungkus kertas kado warna biru batik.

“Bukalah…..ini untukmu.”

Riana menatapnya sesaat dengan tatapan ingin tahu tapi tak lama jari-jarinya yang mungil segera membuka bungkusan itu.

“Hemmm…apa ini Bang? Album foto….? Emmm…” Sesaat Riana terpana melihat album foto ukuran standar di pangkuannya. Tak ada yang istimewa, hanya sebuah album foto berwarna hijau muda dengan tulisan motivasi dan bercover lucu.

“Album foto Bang?”

“Iya….memang tak ada yang istimewa, cuma album foto kok…”ujar Ryan santai seolah mampu membaca pikiran Riana.

“Selanjutnya kamu pasti akan bertanya kenapa aku memberi kamu hadiah yang ternyata hanya sebuah album foto kan?” Ryan tersenyum.

“Kamu tahu Riana? Semenjak pindah ke  Bangka dan menetap di Pangkalpinang, Abangmu ini sama sekali belum sempat menikmati keindahan pantai di pulau ini. Yah…kamu tahu sendirikan, itu semua karena kewajiban Abang sebagai dokter. Jadi, anggap saja album foto itu permintaan …..”

“Permintaan  apa Bang? Riana tak mengerti…”

“Maukah Riana menemani Abang melihat keindahan di pulau Bangka ini? Yah…itupun kalo Riana tak keberatan. Adikmu Rina pernah bilang ke Abang, katanya kamu sangat suka fotografi, hemmm…sepertinya kita memiliki hobi yang sama. Sesekali, mungkin kita bisa pergi untuk mengambil beberapa buah fotokan….ya…seperti pemandangan di Parai, Tanjung Pesona atau Pasir Padi juga boleh…..Bagaimana…?”

Riana tak menjawab, walau sebenarnya ia tak tega menolak permintaan itu tapi entah kenapa yang dirasakannya hanya berat. Hampir selama tiga bulan lebih ini tak ada satupun yang menarik minatnya.

“Riana tak perlu menjawab sekarang….”tukas Ryan sambil menatap Riana yang membisu. Entah kenapa dirinya selalu berusaha menyelami perasaan gadis itu. Setidaknya ia memahami satu hal. Hati Riana pernah terluka, luka yang sampai sekarangpun masih membekas. Dengan kesadarannya ia sungguh tak ingin menambah beban pada gadis itu, namun sebaliknya, ia ingin menjadi seseorang yang mampu menyembuhkan trauma cinta yang terlanjur bersarang di hati Riana.

“September depan baru ada dokter pengganti, jadi Abang harap jawaban Riana tidak mengecewakan ya? Masih satu bulan koq?” terang Ryan tersenyum.   

****

Pagi itu, langit Parai terasa begitu sejuk. Riana menghirup nafas dalam-dalam dan membiarkan angin pantai memasuki rongga dadanya. Ia merentangkan lengannnya ke samping. Matanya terpejam. Sedikit menengadah. Perlahan dan ia merasakan kelegaan. Sejak Sabtu, mereka menginap di Parai. Dan tenyata permintaan itu terpenuhi. Sesaat Rizu terbayang senyum Ryan yang sejak mereka berangkat seolah tak pernah lepas. Rina duduk di bangku belakang. Mama dan Kakaknya Tania duduk di bangku tengah, sedang dirinya sendiri di depan, di samping Ryan yang sejak mereka berangkat selalu menceritakan tentang pengalaman-pengalaman lucunya di rantau orang. Entah kenapa, selama sebulan ini Riana merasa beban yang mengganjal di hatinya terasa berkurang. Sedikit demi sedikit seolah mulai mencair.

Canon EOS 7D itu masih berada di genggaman Ryan ketika ia diam-diam mengambil gambar Riana yang sama sekali tak sadar jika dirinya telah menjadi objek foto.

“ Natural…” Ryan menggumam, membuyarkan Riana yang untuk beberapa saat lamanya merasakan keheningan menjalar di sekujur tubuhnya. Ketika ia membuka mata, Ryan telah berdiri di sampingnya….

“ Coba lihat…? Sepertinya Abang sudah mendapatkan foto yang sangat menarik pagi ini.” Ujarnya lembut dengan tatapan puas. Memperlihatkan hasil fotonya kepada Riana.

“ Apa Bang? Hah, Abang curang. Tolong dihapus Bang?” Wajah Riana memerah, malu.

“ Kenapa harus dihapus? Ini bagus Ri? Coba lihat…so natural….. .”

Tak sadar mereka telah berkeliling hampir selama satu jam dan menemukan banyak tempat-tempat menarik untuk diabadikan ke dalam sebuah album kecil. Riana tersenyum lepas. Untuk pertama kalinya, setelah sekian lama ia mungkin bahkan lupa bagaimana tersenyum. Namun di hatinya saat ini hanyalah lega. Sesuatu yang hanya bisa dirasakan, Ryan, benar-benar tak hanya mengobati luka fisiknya, tapi juga hatinya.

Sesuatu yang dirinya dulu tak pernah ingin lakukan, mencoba. Keberanian membuka cinta yang baru. Cinta itu tak hanya tawa dan luka. Tapi lebih dari itu, Riana memahami satu hal. Cinta adalah keberanian yang tumbuh dari hati untuk memaafkan dan melupakan.

Kini, Riana merasakan warna-warna di hatinya mulai terisi kembali. Oleh kehangatan dan kepercayaan. Pada ketulusan. Seperti pelangi di hatinya……

   ****************************************************



Kamis, 19 Februari 2015

Cinta Tara


Matahari sore itu tak menyiratkan apapun. Selain kabut kelabu di antara desau kepak layang-layang hitam yang mondar mandir di atas permukaan sungai. Dari atas jembatan, Tara memandang sekelompok remaja yang masih mendayung perahu sewaannya. Setiap Sabtu sore, di pinggir jembatan itu dipenuhi orang-orang yang menghabiskan waktu berkumpul. Sebagian besar adalah para remaja. Di bawahnya, terbentang sungai retensi Kacang Pedang. Pemandangan yang cukup indah, apalagi di kala sore saat matahari nampak merah, walau sore ini air sungai hanya berlipat ringan. Tak memantul cerah seperti biasa, karena hujan baru saja berhenti kira-kira sejam yang lalu.

Semburat merah yang agak redup itu membungkus tatapan Tara dengan hati takjub. Tarian kawanan layang hitam yang lincah menampar Tara pada sebuah ingatan. Satu wajah! Dan kini wajah itu hadir di ingatannya sekarang. Lengkap dengan senyumnya, tatapannya yang lembut selalu menggetarkan Tara di setiap tarikan nafas. Tak pernah mengenal bosan jika harus mengingat tentang wajah itu.Tertanam dalam memori Tara sehingga wajah itu seolah hidup menyapa hari-hari dalam kesehariannya meski wajah itu tak dimilikinya. Tara pun tak mengerti. Inikah cinta itu? Cinta yang kata sebagian orang tak mengenal logika, cinta yang di dalamnya justru melahirkan kebutuhan tersendiri yang tak dapat dicegah? Nyatanya, wajah itu sudah menemani Tara bertahun-tahun yang panjang. Seketika Tara tersentak oleh suara hp-nya yang berdering cukup keras.

“Assalamuallaikum…? Ada apa Ris?” Di kejauhan terdengar suara Risma pelan menggurat pertanyaan yang membuat hati Tara berdebar tak keruan.

“Bagaimana Tara? Sudah hampir dua minggu tak ada kabar. Malam ini aku dan Kak Herry akan ke rumah. Kamu ada di rumahkan?” Sejenak Tara tak menyahut. Hatinya bimbang.

“Iya….Ris…iya, aku ada di rumah kok. Datang saja….”

“Okeh, sampai jumpa nanti ya?” Sambungan itu terputus meninggalkan Tara dalam suasana yang sulit dijelaskan.

Risma adalah sahabat Tara sejak di Sekolah Menengah. Dan sekarang sahabatnya itu sudah menikah dengan Herry. Kakak kelas berprestasi yang sering menjadi pembicaraan mereka dulu. Kini, setelah sepuluh tahun menikah, kehidupan mereka sangat bahagia dengan tiga orang anak yang lucu-lucu. Secara materipun, kehidupan mereka sangat mapan. Gambaran keluarga kecil yang bahagia. Tara tersenyum memikirkan semua itu, meski terkadang terselip sedikit rasa cemburu. Kebahagiaan yang menurutnya sempurna, walau nyatanya adakah kebahagiaan yang benar-benar sempurna di dunia selain rasa syukur? Tara mendesah pelan. Membuang jauh-jauh pikiran itu dari jiwanya yang mendambakan sebentuk cinta sejati.

Malam itu, Risma duduk di samping tempat tidur Tara dengan tatapan antusias. Sementara Herry suaminya mengobrol dengan saudara laki-laki Tara di ruang tamu depan. Sejenak kedua sahabat lama itu hanya terdiam. Sampai beberapa lamanya seolah Risma sudah tak sabar dengan kekakuan di antara mereka.

“Apa jawabanmu?”

“Hah, apa? Emm….aku…”

“Ayolah Tara..ini sudah dua minggu sejak terakhir aku bertanya, masa sih selama itu kamu belum memutuskan? Aku sudah berkali-kali ditanyai Kak Anton tentang jawabanmu. Lalu…sekarang…apa jawabannya Tara…? Kamu bersedia kan? Menerima lamaran Kak Anton?” Tara hanya menekur.Terdiam seperti boneka yang sedang dieksekusi.

“Aku…aku samasekali belum memutuskan Ris…? Maaf…Tapi aku masih butuh waktu untuk memikirkan semuanya.”

“Waktu? Kamu bilang waktu? Berapa lama lagi waktu yang kamu butuhkan Tar? Sebulan? Setahun? Kenapa memutuskan hal seperti ini saja sangat sulit buat kamu? Coba kamu pikir, apa kekurangan Kak Anton? Dia tampan, muslim yang ideal, punya pekerjaan, dan yang jelas dia mencintaimu dan menginginkan kamu yang menjadi istrinya. Kamu itu beruntung Tara? Pernahkah kamu berpikir tentang itu? Hah?!” Suara Risma agak meninggi. Sedikit tak sabar dengan sikap Tara yang tak bisa memberi jawaban pasti.

  “Bukannya aku memaksamu untuk menerima lamaran Kak Anton karena dia saudaraku, tapi juga karena kamu adalah sahabatku, Tara? Aku ingin yang terbaik buat kamu. Dan tentu saja aku orang yang paling mengenal karakter Kak Anton. Aku tahu dia orang yang seperti apa karena dia kakakku. Kak Anton pria yang baik, penyayang dan bertanggungjawab…..? Apakah itu semua masih kurang buatmu…..?!”

“Maafkan aku Ris…aku benar-benar….butuh waktu…?”

 Kali ini Tara tak dapat menyembunyikan perasaannya lebih lama. Air matanya menetes satu-satu. Tak tahu apa yang harus dikatakan. Dirinya sungguh tak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkannya. Mungkin seumur hidup…….Entah dengan cara apa ia harus mengungkapkan perasaannya sekarang. Begitu dilematis, antara cinta, tuntutan, harapan yang tak dapat ia raih dan masa depan. Tara hanya bisa menangis, menyaksikan Risma yang beranjak meninggalkan dirinya di kamar yang sekarang terasa begitu pengap.Sepengap celah di jantungnya hingga menyempit di rongga dada dan mencekat di lehernya.

Pernikahan untuknya adalah sesuatu yang sangat agung dan indah. Begitu sakral dan hanya bisa dilandasi oleh dasar yang juga agung. Dan satu-satunya keagungan itu adalah cinta. Naif. Tara memang sangat naif. Terlebih di usianya yang sudah kepala tiga. Cara berpikirnya mungkin lebih mirip seorang remaja yang baru mengenal cinta. Walau dirinya cukup mengerti tak hanya modal cinta untuk membangun sebuah pernikahan. Tapi banyak faktor yang terlibat. Keluarga, agama, pendidikan, cara berpikir yang membentuk karakter seseorang untuk menjadi seorang imam dalam keluarga, begitupun sebaliknya. Pertanyaannya adalah haruskah dirinya menikah hanya karena faktor kompromi ataupun karena tuntutan usia?

Tapi pernikahan juga adalah ibadah, dan pertanyaannya  bagaimana sesuatu yang indah bisa menjadi ibadah jika di dalamnya hanya ada keterpaksaan? Bagaimana seorang istri bisa berbakti kepada suami dengan ikhlas jika suami itu bukanlah seseorang yang dicintainya? Jika hati itu terlanjur dimiliki oleh pria lain? Pengkhianatan secara tak langsung bukan? Karena pernikahan juga adalah ikatan emosi terdalam antara dua individu yang saling membutuhkan dan mengisi satu sama lain. Pernikahan tak hanya soal status dan kewajiban. Tak hanya tentang memberi dan diberi, tapi tentang keikhlasan terdalam dan itu adalah cinta yang nyata! Tara tak mampu membayangkan jika dirinya harus tidur dengan pria yang tak dicintainya. Disentuh dan wajib melayani atas dasar kewajiban dan patuh. Kenapa? Karena dirinya bukanlah boneka. Tidakkah itu dosa namanya? Alih-alih mendapat pahala malah mendapat murka!

Ingin sekali Tara menjerit. Merasakan kekosongan itu merebak di setiap kisi. Ingin ia meneriakkan pada tiang-tiang dan merobek segala kesenyapan yang merambat.
Jauh di hatinya yang rapuh seperti serpihan kayu sisa gergaji. Terkikis tipis oleh waktu dan tuntutan. Namun, apa daya jika kenyataan telah terlanjur menempatkan jiwanya pada sebuah perangkap yang takkan mungkin dimengerti oleh siapapun. Cinta yang bodohkah namanya? Atau cinta gila mirip judul lagu-lagu komersil yang beredar di pasaran? Pertanyaannya, benarkah kebodohan dan kegilaan itu cinta?

Risma meninggalkan rumah Tara dan tak pernah memberi kabar lagi padanya. Bahkan berminggu-minggu setelah kejadian itu, telepon Tara tak pernah lagi diangkat. Selalu jawaban sama yang ditinggalkan oleh mesin penjawab. Namun, entah dengan cara apa Tara seolah mengerti kesalahan itu. Sesuatu yang membuatnya merasa bersalah...... Pada sahabatnya.....pada Kak Anton.......

Tara ingin memaki dirinya karena tak pernah berani mengambil keputusan itu. Melupakan sama sekali atau justru memperjuangkan cinta yang sudah bertahun-tahun menggumpal di dadanya. Mungkin sekaranglah ia harus membuat pilihan agar hatinya tak terlunta lebih lama. Keputusan yang dapat sangat berpengaruh pada hidupnya..... Keputusan tentang cinta dan masa depan. Atau tepatnya antara hidup dan mati. Karena cinta itu adalah nyawa yang terlanjur membungkus jiwanya yang tertatih.

Bayangan itu kembali hadir di benak Tara.... Perempuan setengah baya, renta dan beruban yang duduk di pinggir jendela tatkala sore menjelang. Gelisah menantikan matahari terbenam. Di tangannya tergantung tasbih lusuh dari biji-biji yang sudah kehilangan warna. Mirip dengan si pemegangnya yang sudah termakan usia. Perempuan renta itu sesekali menatap ke arah langit dan mencari gumpalan-gumpalan awan yang tersisa. Seolah mencari asa yang tertinggal di masa lalu. Mungkin terkubur tapi tak sepenuhnya hancur.... Dan sinar redup itu menggoda batinnya andai ia tak bermain dengan waktu, tak menyia-nyiakan segalanya, andai dirinya tak terlalu pengecut mengejar impian hatinya.... Hanya sanggup membayangkan seperti apa rupa kekasih hatinya kini? Beruban di tempat yang entah tak tahu di mana rimbanya? Menyalahkan diri andai dulu ia berani....pada cinta itu yang memberinya amanat.....

Kosong...... 

Tara paling mengerti jika wanita renta itu mungkin gambaran dirinya. Tidak...dirinya tak ingin mereka-reka. Terlalu menakutkan.....Mungkin hal inilah yang membuatnya enggan menerima lamaran Kak Anton. Tak ingin mengambil risiko dengan cinta. Mereka bilang, cinta dapat datang setelah menikah..... Bagaimana jika tidak?     


    **********